Jangan jadikan COPAS (Copy-Paste) sebagai budaya ! ! !
Pin It

Keluar Dari Mulut Singa Masuk Ke Mulut Buaya

5comments


Keluar Dari Mulut Singa Masuk ke Mulut Buaya
Haruskah saya berterus-terang untuk mengatakan bahwa saya merasa ngilu untuk membahas masalah ini. Sebagai putera asli Aceh tentu memiliki rasa ingin mengulangi sejarah dan tidak pernah melakukan hal yang telah dilaksanakan itu. Tapi apa lacur nasi telah menjadi bubur walaupun dimasak terus pun rasanya tetap tidak enak. Tapi biarlah, yang berlalu telah menjadi sejarah dan sejarah harus diungkapkan agar semua tidak menjadi fakir-fakir sejarah.

Lalu, setelah perang Aceh melawan bangsa asing berakhir, Aceh hidup dalam wadah negara republik Indonesia. Bagaimana bisa? Simak cerita saya selanjutnya!
Dimasa revolusi fisik, Aceh adalah satu-satunya wilayah Indonesia yang tidak pernah dikuasai Belanda. Ketika lasykar rakyat Aceh terkepung di Sungai Ular, sekitar 3.000 orang Aceh berangkat ke daerah sekitar Medan dan Tapanuli untuk bergabung dalam kancah perang yang terkenal dengan sebutan perang “Medan Area”. (Bukan tanpa alasan, lihat:..) Sejarah mencatat, hampir 1.000 putera Aceh gugur sebagai syuhada dalam perang ini. Rakyat Aceh juga memberikan hadiah yang sangat berarti bagi Republik Indonesia untuk menegakkan Indonesia merdeka, seperti menyumbang dua pesawat terbang Dakota (Seulawah Agam dan Seulawah Dara) dan dana untuk membeli dua pesawat ini dikumpulkan dari harta rakyat Aceh dari rumah ke rumah. Sehinggga pada tahun 1948 Presiden Soekarno menyebut Aceh sebagai “daerah modal” bagi Indonesia.
Ketika Ibukota Republik Indonesia (Yogyakarta) diduduki Belanda dan Soekarno-Hatta ditawan oleh Belanda, Aceh menjadi basis utama perjuangan pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), yang secara de jure berada di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Dimasa Indonesia Serikat (RIS), sidang staf Gabungan Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo pada tanggal 20 Maret 1949, yang dipimpin oleh Muhammad Daud Beureu-eh, sepakat menolak ajakan Teungku Mansur untuk bergabung dalam negara federal Sumatera Utara, menolak memproklamasikan Aceh sebagai negara sendiri dan memilih tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia (Yogyakarta) yang kemudian sangat disesalinya. Karena itulah Mr. Syrifudin Prawiranegara (mantan kepala PDRI) saat menjabat sebagai wakil perdana menteri mengeluarkan peraturan Wakil Perdana Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah No. 8/Des/WKPM/1949 tentang Pembentukan Provinsi Aceh pada pertengahan 1948.
Sayangnya para penguasa Republik Indonesia tidak mengerti jiwa dan pengorbanan bangsa Aceh sehingga melakukan perilaku zalim terhadap bangsa Aceh. Dengan tidak bisa diterima oleh akal sehat dan tanpa alasan yang jelas, status Aceh sebagai provinsi dicabut dan diganti dengan keresidenan (kabupaten) dalam provinsi sumatera utara, melalui Peraturan Pemerintahan Pengganti Undang-Undang (perpu) nomor 5 Tahun 1950 tentang pembentukan Provinsi Sumatera Utara, yang ditandatangani oleh Pemangku Jabatan Presiden RI, Mr. Assaat dan Menteri Dalam Negeri Mr. Soesanto Tirtoprodjo (RI Yogyakarta). Sesungguhnya inilah sebuah penyesalan dan bibit perang Aceh dua periode berikutnya dalam melawan ketidak adilan dan kezaliman.

Keluar Dari Mulut Singa Masuk ke Mulut Buaya



Share this article :

+ comments + 5 comments

November 7, 2012 at 10:30 AM

Nyan poto bereueh awak publo nangro ngon jabatAn dan puko nyan bijeh bijeh beu ta peu abeh . Saket hate meunyo ta ingat keu kameng nyan di gabung ngon RI tujuan kekuasaan jino rakyAt yang menderita Di tindas lee jawa

November 7, 2012 at 3:43 PM

Iya, mngkin diantara yg lain ada yg sependapat dgn sdr. Memang ketidakpuasan pasti akan selalu ada dan kerap mninggalkan luka. Manipulasi poltik atau kecurangan politik memang kerap terjadi di Indonesia dr jaman pnjajahan hingga sekarang, khusus`a di Aceh. Namun, kita hrs menyikapi itu semua secara cerdas, terutama Pemuda-Pemudi Aceh hrs bisa mwujudkan apa yg telah pendahulu kita perjuangkan.
sdr galau senang sy suka sikap kritis Anda tp hrs dng bhs yg sopan. Terimakasih.

November 7, 2012 at 6:25 PM

Ya betul juga saudara asri jika kita ingat sakit hati. Tp harus kita sikapi dengan bijak.

November 8, 2012 at 12:14 AM

iya saya jg mrasakan hal yg sama dgn sdr Galau Senang. Tp Aceh tlah damai dan kita wajib mnjaganya sesuai dng MoU Helsinky. Jng lagi mnimbulkn konflik baru di Aceh krn rakyat tlh sngt mnderita. Bukankah demikian? :)

Anonymous
December 17, 2014 at 1:53 AM

Republik Indonesia sendiri sebenarnya sdh tidak ada.
Lihatlah ketika hasil Pejanjian pasca Agresi Belanda ke 1 :
Indonesia = Jogjyakarta dan 8 Keresidenan.

Apakah itu bukan hasil politik ?
Yaa, setelah itu datanglah Agresi Belanda ke 2, Serangan 8 jam dari Darat Laut dan Udara (operasi Elang / Hawk). Hancur semua. dan dibawa ke perundingan di kapal Renville Konferensi Meja Bundar. Hasil politiknya apa ? RIS

Semua balik lagi mjd indonesia. Stop. Gak usah urus dulu kecurangan2 dan penipuan2 oleh Soekarno, setelah RIS jadi apa jadi apa dan lain-lainnya. dia Penipu Islam. Komunis itu dia. dan sampai sekarang adlah penerus2nya.

Kalo mau bela tanah air, jangan pakai faham2 ajaran yg sudah dipolitisir oleh komunis kenapa? pakai sejarah yang real/nyata ! *maaf tadi sy melihat ada sedikit yg salah* *yakni masih tercetus ungkapan membela RI, walau sedikit.*

Post a Comment

 
Copyright © 2013. Nanggroe Aceh - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger
DMCA.com