Jangan jadikan COPAS (Copy-Paste) sebagai budaya ! ! !
Pin It

Teuku Umar Sosok Pengkhianat Yang Insaf Part II

0 comments

Teuku Umar
Sejarah Aceh - Selama kepemimpinan Teuku Umar, beberapa mukim yang memiliki kekuatan pasukan yang besar berhasil ditaklukkan. Rasanya tidak cukup sampai disitu Teuku Umar membentuk persekutuan dengan seorang ulama besar Teungku Kutakarang yang berdomisili di mukim XXV Mukim. Rupanya Teungku Kutakarang tidak suka dengan pajak sabil (pajak perang) yang diterapkan dikawasannya oleh anak dan pengikut Teungku Chik Hasan Di Tiro, dan dengan kapasitasnya Teungku Chik Kutakarang berfatwa bahwa melakukan perlawanan terhadap Teuku Umar bukan bagian dari perang fisabilillah. Fatwa itu dikeluarkan demi menjaga persekutuan keduanya. Akhirnya para pejuang Aceh pun dengan setengah hati berperang melawan Teuku Umar yang berkhianat.

Namun persekutuan itu tidak berjalan lama karena Teungku Chik Kutakarag meninggal dunia. Hal ini membuat Teuku Umar resah, kedudukan Teuku Umar menjadi goyah karena pejuang Aceh telah kembali menyerukan perang terhadapnya. Sehingga ia mengambil tindakan dan tujuan jangka panjang dengan mengajukan proposal untuk menaklukkan Benteng Lam Krak yang dikuasai oleh pejuang perempuan Aceh. Belanda segera menyetujui proposal itu, dan Teuku Umar beserta pasukannya mendapatkan perlengkapan berupa 880 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg peledak dan uang tunai 18.000 dollar. Karena menurut Van T. Veer dalam bukunya yang berjudul “Perang Aceh” diterbitkan oleh Grafitti Press, Teuku Umar mempunyai ambisi untuk menjadi Sultan Aceh dan ambisinya dapat diwujudkan dengan cara ia bergabung dengan Belanda. Hal inilah yang sebenarnya membuat protes Cut Nyak Dhien begitu keras, dan juga tidak mungkin Belanda bisa ditipu berkali-kali, karena sebelumnya Teuku Umar pernah beberapa kali menyerahkan diri dan membelot dari Belanda.

Akan tetapi pejuang Aceh selangkah lebih maju dari Teuku Umar, entah dari mana proposal yang diajukan olenya diketahui oleh pejuang Aceh. Sehingga pejuang Aceh membuat perang urat saraf dengannya dengan menyebarkan ramalan bahwa Teuku Umar akan tewas dalam penyerangan benteng Lam Krak. Tentu saja, sang Panglima Besar Nedherland Teuku Umar menjadi terkejut setengah mati, mendengar ramalan itu dan juga proposalnya yang dapat diketahui oleh para pejuang. Sebagai seorang putera Aceh yang muslim Teuku Umar galau bukan kepalang, dia berfikir keras bagaimana kejadiannya jika ia mati sebagai pembela kaphe Belanda dan membantai saudara-saudaranya sendiri tentu saja ia akan mati menjadi kafir dan akan dikenang selamanya oleh anak cucu bangsa Aceh. Selain itu istrinya telah menganggapnya sebagai seorang pengkhianat dan terus-menerus melakukan protes. Akhirnya, dengan keislaman Teuku Umar insaf dan kembali membelot dari Belanda dan kembali bergabung dengan pejuang Aceh dengan membawa lari semua isi dalam proposal Lam Krak. Belanda tentu saja kebakaran jenggot, dikhianati berkali-berkali membuat pemerintah Belanda memerintahkan pasukan khusus Marsose untuk memburu Teuku Umar yang akhirnya syahid oleh sergapan pasukan Marsose pada 11 Februari 1899. 

Seperti itulah kebenarannya Anthony Reid, seorang peneliti dari Inggris juga mengungkapkan hal serupa dalam penelitiannya terhadap pembelotan Teuku Umar kepihak Belanda. Semua itu agak sedikit membantah kesimpang siuran catatan sejarah tentang Teuku Umar yang berpura-pura membelot untuk kepentingan perjuangan masyarakat Aceh. Hal ini juga yang membuktikan mengapa iman itu sangat dibutuhkan, dikala tahta dan harta telah mencengkram begitu kuat. Jika Cut Nyak Dhien dan pejuang Aceh tinggal diam dengan tingkah Teuku Umar, maka sungguh malu anak cucu Aceh melihat sejarah yang buram penuh dengan sikap-sikap oportunis dan pengkhiatan. Maka, pada hari ini anak cucu bangsa Aceh mengambil kesimpulan bahwa Teuku Umar adalah sosok pengkhianat yang insaf.

Sekedar informasi, entah kebetulan atau tidak jumlah senjata yang dibawa lari oleh Teuku Umar sebanyak 880 pucuk sama dengan jumlah senjata yang diserahkan oleh GAM kepada AMN pasca damai Aceh. Wallahu`alam.



Share this article :

Post a Comment

 
Copyright © 2013. Nanggroe Aceh - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger
DMCA.com